sesungguhnya kita tidak benar-benar menciptakan jarak
ia ada dan semakin lebar
saat luka dan kecewa diberi ruang
Sabtu, 27 Oktober 2018
Selasa, 25 September 2018
Sore itu di Ipukan
Hari mulai sore ketika hujan reda, aku mulai bersiap untuk pulang.
Mengambil ransel lalu melangkah keluar dari tempat berteduh ini.
Baru saja keluar tiba-tiba aku melihat sesosok yang tidak asing bagiku.
Ia terlihat kepayahan membawa tas gunung, kaki-kakinya terus melangkah meski
kondisi tanah sedikit menanjak. Hari itu tak ada riasan yang menempel di
wajahnya. Namun ia tetap terlihat cantik dengan rambut yang dikuncir.
Tiba-tiba dadaku berdesir. Bagaimana tidak? Dia adalah orang yang pernah
menancapkan luka yang kelewat dalam padaku. Sejak dulu aku sudah mencoba
melupakan semua tentangnya. Dan datang ke tempat ini merupakan salah satu
usahaku.
Hingga akhirnya ia melihatku dan untuk sesaat kami sama-sama saling
diam, mungkin memang pertemuan ini tidak pernah terpikir sebelumnya.
"Hai, kesini
juga?" Ia memecah hening diantara kita berdua.
"Iya, ini baru aja
turun"
"Naik lagi yuk"
Aku hanya membalas dengan
senyuman.
"Yaudah aku naik
duluan yaa" Ucapnya seolah mengerti apa yang aku rasakan saat itu.
Kemudian iya pergi, tubuhnya perlahan hilang dari pandanganku. Dia meninggalkanku kembali, namun
kali ini dengan perasaan yang berbeda. Entah mengapa aku merasa hidup,
harapan-harapan itu kembali muncul. Seluruh usahaku melupakannya seketika
runtuh begitu saja.
Ramadan dua tahun lalu
Ramadan dua tahun lalu kita bertemu di cafe pinggiran kota, atau sebuah
kedai kopi. Entahlah. Aku tak tahu seharusnya menamai tempat itu apa. Saat itu adalah kencan pertamaku.
Yang pertama setidaknya untuk beberapa tahun belakangan. Aku pikir kau tidak keberatan
jika aku menyebutnya kencan. Jika kau keberatan, aku akan ganti bagian ini.
Setelah sampai di tempat ternyata aku terlambat. Akupun langsung memesan. Kalau boleh jujur aku tidak tahu
jenis minuman di sana, terlalu banyak nama untuk segelas kopi. Bukan apa,
yang kutahu kopi itu kalau tidak hitam ya coklat. Kalau tidak pahit ya
manis. Itu saja.
Setelah duduk dan pesanan datang, kita berbincang. Kau terlihat begitu
tenang dengan menyilangkan kakimu, dan sesekali kau menambahkan gula ke kopimu
lalu mengaduknya begitu pelan sambil matamu terus menatapku.
Dari semua obrolan malam itu ternyata banyak hal yang aku lewatkan
tentangmu. Aku selalu berpikir bagaimana bisa? Aku mengenalmu sudah begitu
lama. Apakah selama ini kau tak terlihat olehku atau aku yang tak terlihat
olehmu?
Yang pasti sejak pertemuan itu aku merasa lebih bahagia, aku punya
alasan untuk bangun pagi dan mengucapkan selamat pagi, atau jika aku bangun
terlambat kau yang mengucapkannya. Bahkan sekarang aku tahu apa itu espesso. Ya, karena
kau suka itu.
Sekali lagi, kau tidak keberatan kan aku menyebutnya sebagai kencan?
Tak perlu banyak pertanyaan
Meskipun sekali waktu sempat terbesit untuk meninggalkanmu, nyatanya pagi ini aku masih juga terbenam dipelukmu dengan sisa-sisa kebahagiaan semalam.
Aku tahu jatuh cinta itu sangat mudah. Kita bertemu di bar sore itu, kau dengan masalahmu, aku dengan masalahku.
Jika kau tanya apakah aku mencintaimu?
Aku tak tahu.
Aku tahu jatuh cinta itu sangat mudah. Kita bertemu di bar sore itu, kau dengan masalahmu, aku dengan masalahku.
Jika kau tanya apakah aku mencintaimu?
Aku tak tahu.
Dia, Naoko.
Seperti biasanya dia memintaku untuk menemaninya di hari
libur. Namun kali ini ada yang berbeda, dia bilang ingin menikmati suasana kota
dengan berjalan kaki. Aku menuruti saja.
Karena jarak
kami lumayan jauh, kami pun sepakat bertemu di stasiun. Aku melihatnya, dia
sangat cantik hari itu, tapi matanya begitu kosong saat menatapku, dan tidak
seperti biasanya, kali ini dia lebih banyak diam, dan bahkan tidak menyambutku
sama sekali.
Sudah setengah
perjalanan kami mengelilingi setiap sudut kota ini, langkahnya pelan, semakin
jauh semakin pelan, mulutnya masih diam sejak pertama kita bertemu di stasiun,
tanpa bicara sepatah katapun. Hanya saja tangannya semakin lama semakin kencang
menggengam tanganku, seakan-akan ada sesuatu yang ingin dia katakan.
Di sebuah taman
dekat sungai kami berhenti, dia masih tetap diam dan menunduk, bibirnya
bergetar. Aku tahu ada yang berbeda, tapi aku terlalu bodoh untuk mengetahui
apa yang sebenarnya terjadi. Sampai akhirnya dia menarikku untuk kembali jalan
menuju stasiun tempat kami bertemu, kami berpisah, dia memelukku, lalu masuk ke
dalam kereta.
Langganan:
Postingan (Atom)