Rabu, 31 Oktober 2018

Jauh 1

Pada akhirnya kau dan aku saling menjauh, mulai merangkai kenyataan bahwa kita saling meniadakan satu sama lain; kau sudah menganggapku tak ada dan aku terlalu keras kepala untuk membuktikan bahwa akupun bisa sepertimu; menganggapmu tak ada.

Meski tanpa pernah kau tau bahwa aku masih diam-diam mengikuti langkahmu dari kejauhan, dari jarak yang lebih jauh dari sebelumnya.

Entah sampai kapan aku berjalan di belakangmu, aku hanya tak ingin merusak segala hal yang telah kau impikan.

Pada akhirnya tidak ada yang bisa aku lalukan selain tetap menjaga jarak ini dan menerima kenyataan bahwa kau sudah sempurna berdiri tanpa aku di setiap malammu sebagai orang yang kau jadikan tempat untuk menumpahkan segala keluh kesahmu; dan aku kehilangan satu-satunya pelanggan yang selalu datang menemuiku;

Yang duduk di depanku selama berjam-jam untuk mengadu tentang kekasihmu yang hari itu kembali mengecewakanmu.

Yang duduk di depanku selama berjam-jam untuk menyeka luka yang kau tunjukkan setiap menemuiku.

Minggu, 28 Oktober 2018

Sebelum semuanya runtuh

aku kembali jatuh dalam lautan hitam dirimu
ketidakpastian dimana aku berada;
sedalam apa aku tenggelam
membuatku kehilangan arah

untuk kesekian kalinya aku berada di ambang pilu
antara hidup terluka
atau mati tanpa bahagia

Sabtu, 27 Oktober 2018

Selasa, 25 September 2018

Sore itu di Ipukan



Hari mulai sore ketika hujan reda, aku mulai bersiap untuk pulang. Mengambil ransel lalu melangkah keluar dari tempat berteduh ini.

Baru saja keluar tiba-tiba aku melihat sesosok yang tidak asing bagiku. Ia terlihat kepayahan membawa tas gunung, kaki-kakinya terus melangkah meski kondisi tanah sedikit menanjak. Hari itu tak ada riasan yang menempel di wajahnya. Namun ia tetap terlihat cantik dengan rambut yang dikuncir.

Tiba-tiba dadaku berdesir. Bagaimana tidak? Dia adalah orang yang pernah menancapkan luka yang kelewat dalam padaku. Sejak dulu aku sudah mencoba melupakan semua tentangnya. Dan datang ke tempat ini merupakan salah satu usahaku.

Hingga akhirnya ia melihatku dan untuk sesaat kami sama-sama saling diam, mungkin memang pertemuan ini tidak pernah terpikir sebelumnya.


"Hai, kesini juga?" Ia memecah hening diantara kita berdua.

"Iya, ini baru aja turun"

"Naik lagi yuk"

Aku hanya membalas dengan senyuman.

"Yaudah aku naik duluan yaa" Ucapnya seolah mengerti apa yang aku rasakan saat itu.


Kemudian iya pergi, tubuhnya perlahan hilang dari pandanganku. Dia meninggalkanku kembali, namun kali ini dengan perasaan yang berbeda. Entah mengapa aku merasa hidup, harapan-harapan itu kembali muncul. Seluruh usahaku melupakannya seketika runtuh begitu saja.